Rabu, 23 Maret 2016

Ketentuan Baik dari Allah

SEGOLONGAN orang bertanya kepada Rasul Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ketika beliau bersabda: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menetapkan suatu ketentuan kepada seorang mukmin kecuali hal itu menjadi kebaikan bagi orang mukmin tersebut.” Padahal Allah juga telah menetapkan ketentuan yang buruk baginya, yang menyebabkan adanya sanksi. Lalu bagaimana hal itu menjadi kebaikan?
Ketentuan Baik dari AllahMengenai hal itu, ada dua jawaban:
Pertama, bahwa perbuatan hamba tidak termasuk ke dalam makna hadist tersebut. Yang termasuk ke dalam makna hadist tersebut adalah sesuatu yang menimpa manusia, berupa kenikmatan dan musibah. Sebagaimana firman-Nya: “Apa pun kebaikan yang menimpamu maka itu berasal dari Allah dan apa pun keburukan yang menimpamu maka itu berasal dari dirinya sendiri.” (An-Nisaa’: 79). Oleh karena itu, Rasulullah bersabda: “Jika dia memperoleh kebaikan, dia bersyukur maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa keburukan, dia bersabar maka itu baik baginya.”
Dengan demikian, Allah menjadikan ketentuan itu adalah sesuatu yang menimpa manusia berupa kesenangan dan kesusahan. Ini adalah lafaz perkataan yang sangat jelas dan tidak ada kontradiksi dengan firman Allah tersebut.

Kedua, jika Allah menetapkan bahwa perbuatan itu termasuk ke dalam hadist tersebut, maka Rasulullah telah bersabda: “Siapa saja yang perbuatan baiknya membuat dia gembira dan perbuatan buruknya membuat dia cemas, maka dia mukmin.”

Jika ditetapkan baginya untuk berbuat baik dan itu membuatnya gembira, maka dia bersyukur kepada Allah atas hal itu.

Jika ditetapkan baginya keburukan, maka keburukan itu hanya mengakibatkan sanksi jika dia tidak bertobat. Jika dia bertobat maka keburukan itu akan diganti dengan kebaikan sehingga dia akan bersyukur kepada Allah.

Jika dia tidak bertobat maka dia akan ditimpa bencana. Bencana itu adalah kafarat (penebus) perbuatan buruk tersebut. Apabila dia bersabar atas bencana itu maka itu baik baginya.
Rasulullah bersabda: “Allah tidak akan menetapkan ketentuan untuk seorang mukmin, yang dimaksud mukmin itu adalah orang yang tidak terus-menerus dalam dosanya dan bertobat dari dosa tersebut, maka itu menjadi kebaikan, sebagaimana terdapat dalam sejumlah ayat bahwa seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa ternyata dia dimasukkan ke dalam surga karena perbuatannya itu. Hal itu karena dia terus menerus bertobat dari perbuatan dosanya itu hingga dia dimasukkan ke dalam surga karena tobatnya itu.”
Dosa itu menyebabkan seorang hamba untuk merendahkan dan menundukkan dirinya kepada Allah, berdoa kepada-Nya, memohon ampun hanya kepada-Nya, mengakui kefakiran dirinya dan mengakui kebutuhannya kepada Allah. Tidak ada yang akan mengampuni dosa kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Berkaitan dengan dosa-dosanya itu, manusia mempunyai dua pilihan: pertama, bisa jadi dia bertobat maka Allah akan mengampuninya sehingga dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertobat yang akan dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, bisa saja dosa itu terhapus dengan adanya musibah. Dia ditimpa kesusahan, maka dia bersabar atas musibah itu. Dengan demikian, keburukan itu akan terhapus oleh musibah tersebut. Dan dengan kesabaran itu, derajatnya menjadi naik.

Dalam beberapa hadist qudsi terdapat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Orang yang suka mengingat-Ku adalah orang-orang yang suka hadir di majelis-Ku. Orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang yang suka mengunjungi-Ku. Orang yang taat kepada-Ku adalah orang yang memuliakan-Ku. Orang-orang yang senang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan menghentikan rahmat-Ku untuk mereka. Jika mereka bertobat maka Aku akan mencintai mereka.” Maksudnya, akan menjadi kekasih mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang membersihkan diri. “Jika mereka tidak bertobat maka Aku adalah dokter bagi mereka. Aku akan menimpakan musibah kepada mereka agar Aku jadikan musibah itu sebagai penebus dosa mereka.“sumber www.hidayatullah.com*/Syaikh Ibn Taimiyyah, terangkum dalam bukunya Misteri Kebaikan & Keburukan.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Selasa, 17 Februari 2015

5 Cara Melembutkan Hati

Tatkala badan merasa enggan untuk beramal, tatkala hati mulai sulit untuk terenyuh, mungkin itu salah satu tanda kerasnya hati, dengan kata lain hati ini sedang sakit. Lantas apa yang akan dilakukan ketika tahu bahwa hati ini sedang sakit? Orang yang sakit pasti akan mencari obat, sebagaimana orang sakit akan pergi ke dokter. Berikut ini penulis berikan obat agar hati menjadi lembut kembali.

1. Perbanyak Baca Al-Quran dengan Mentadabburinya

Di antara sebab lembutnya hati adalah dengan membaca Al Qur’an. Al Qur’an adalah kalamullah, perkataan Allah, Rabb pencipta langit dan bumi, bukan perkataan makhluk. Selain dapat menenangkan hati, membaca Al Qur’an akan diganjar banyak pahala. Bayangkan saja, 1 huruf dari Al Qur’an diganjar 1 pahala, dan 1 pahala akan dibalas dengan 10 kebaikan. Namun syarat untuk menenangkan hati tidaklah hanya sekedar membaca, tapi di-tadabburi, direnungkan maknanya sehingga dapat diamalkan.

2. Perbanyak Dzikir Mengingat Allah

Tidak diragukan lagi, berzikir dapat melembutkan hati. Karena dengan mengingat Allah, maka hati pun menjadi tenang. Sebagaimana Allah firmankan dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya,“Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.”
Dzikir adalah suatu amalan yang mudah, cukup menggerakkan lisan dan bibir saja. Sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk enggan berdzikir.

3. Berteman Dengan Kawan yang Baik Agamanya

Jika seseorang memiliki temanyang baik adalah agama, maka ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak pula. Seperti yang Nabi permisalkan dalam suatu hadits riwayat Al-Bukhari, dimana kawan yang baik dimisalkan sebagai penjual misk (minyak wangi). Boleh jadi ia diberi minyak wangi tersebut, boleh jadi ia membelinya, atau minimal mendapakan bau yang wangi dengan sebab berdekatan dengan penjual minyak wangi.
Maka, carilah kawan akrab yang baik agamanya, sehingga ketika sedang futur (malas, kondisi hati melemah), maka ada yang mengingatkan, menasehati dan kembali membawa kita ke dalam majelis ilmu. Jangan sampai ketika kondisi hati melemah, kita malah menjauhi kawan-kawan yang semangat dalam kebaikan.

4. Menyayangi Anak Kecil

Menyayangi anak kecil dapat melembutkan hati, terutama anak kecil yatim (bapaknya sudah meninggal). Sebagai contoh, kita bisa mengajar anak-anak kecil di TPA, atau bisa berkunjung ke panti asuhan untuk bercengkrama dan mengajarkan mereka hal yang baik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya), “Sayangilah semua yang ada di bumi, niscaya Dzat yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924 dan HR. Abu Dawud no. 4941).
Hadits di atas memerintahkan kita untuk menyayangi semua yang ada di bumi, termasuk semua hewan dan tumbuhan. Misalnya, tidak memberikan beban yang berat pada onta jika kita menaikinya, atau tidak melakukan penebangan liar yang dapat merusak lingkungan sekitar.
Hadits tersebut juga sebagai dalil bahwa Allah berada di atas sana, di atas langit, bukan berada dimana mana seperti anggapan sebagian orang.

5. Berdoa Kepada Allah

Doa adalah senjata seorang mukmin, jangan sampai seorang mukmin melupakan bahwa urusannya tergantung kehendak Allah Ta’ala. Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam ketaatan dan diberikan kelembutan hati, dan dijauhkan dari rasa malas yang terus menerus sehingga hati menjadi mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa agar berlindung dari rasa malas. Berikut adalah doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
/Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat/
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Demikianlah 5 kiat-kiat dalam melembutkan hati, semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, dan dijauhkan dari hati yang keras lagi mati. Wallahul Muwaffiq.

Referensi: Tafsir Surah Al-An’am Karya Syaikh Ibnu Utsaimin
Penulis: Wiwit Hardi P.
Artikel Muslim.Or.Id

Rabu, 07 November 2012

Imam Syafi’i : Aku tidak pernah kenyang semenjak 16 tahun lalu


Pendiri Mazhab Syafie ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Uthman bin Syafi’ie bin sa’ib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muhtalib bin Abdu Manaf. Dari pihak ibu ialah Muhammad bin Fathimah binte AbduLlah bin Al Hasan bin Al Husain al Sibthi bin Ali bin Abi Thalib r.a

Al-Imam Asy-Syafi’ di lahirkan pada bulan Rejab tahun 150 hijrah di Ghaza, wilayah Asqalan yang letaknya di dekat pantai Lautan Putih (laut mati) bahagian tengah Palestina. Tempat kelahiran Imam Syafie sebenarnya bukanlah tempat kediaman ayahanya kerana tempat ayahnya adalah di Kota Mekah, daerah Hijjaz. Beliau lahir di Ghaza ketika kedua orang tuanya berada di kota tersebut untuk suatu keperluan. Kemudian kerana takdir Allah S.W.T ayahnya wafat di sana, sedangkan as Syafie masih dalam kandungan ibunya.
Diriwayatkan ketika Imam As Syafie dilahirkan di kampung Ghaza, ibunya memberi nama Muhammad. Berselang bebarapa hari sampailah berita dari negeri Baghdad Iraq bahawa Imam Abu Hanifah wafat dan telah dimakamkan di Baghdad sebelah timur. Riwayat lain menerangkan bahawa pada saat kelahiran as Syafie, keluarga beliau telah mengadakan perkiraan bahwa hari wafatnya (meninggalnya) Imam Abu Hanifah adalah bertepatan dengan hari kelahiran as Syafie. Berdasarkan riwayat ini, sebahagian ahli tarikh (sejarah) mencatat bahwa hari lahir dan tahun kelahiran Imam Asy Syafie bertepatan dengan hari wafatnya Imam Abu Hanifah r.a sehingga muncul ungkapan.”Telah tenggelam satu bintang dan muncul bintang yang lain.”
Kisah tentang Imam Asy-Syafi’i adalah kisah tentang seorang ahli menuntut ilmu. Seorang yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi cobaan dan rintangan dalam mencari ilmu.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku tidak pernah kenyang semenjak 16 tahun lalu. Karena, banyak makan akan menyebabkan banyak minum, sedangkan banyak minum akan membangkitkan keinginan untuk tidur, menyebabkan kebodohan dan menurunnya kemampuan berpikir, lemahnya semangat, serta malasnya badan. Ini belum termasuk makruhnya banyak makan dari tinjauan syariat dan timbulnya penyakit jasmani yang membahayakan.”
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

Sesungguhnya penyakit, kebanyakan yang engkau lihat
terjadi karena makanan atau minuman

Seandainya tidak ada keburukan dari banyak makan dan minum kecuali menyebabkan sering ke toilet, hal itu sudah cukup bagi orang yang berakal dan cerdas untuk menjaga diri darinya. Barangsiapa yang menginginkan keberhasilan dalam menuntut ilmu dan mendapatkan bekal hidup dari ilmu, namun disertai dengan banyak makan dan minum serta tidur, sungguh dia telah mengusahakan sesuatu yang mustahil menurut kebiasaan.
sumber : kisahislami.com

Rabu, 13 Juni 2012

30 TIPS MENDIDIK ANAK

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkmebang dengan kebaikan, sehingga orangtua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orangtua dan pendidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.
Oleh karena itu, tidak selayaknya orangtua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya.
Di antara adab-adab dan tips dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:
  1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.
  2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan memasukkan tangan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh agar dia berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.
  3. Hendaknya tidak dilatih untuk bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging, dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan makan harus dengannya. Ajari juga agar tidak terlalu bnyak makan  dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mementingkan perut saja.
  4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit baginya untuk melepaskannya.
  5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera.
  6. Jika ada anak laki-laki lain yang memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.
  7. Selayaknya anak-anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang tidak baik akan berpengaruh bagi anak.
  8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca Alquran dan buku-buku, terutama hadis-hadis Nabi dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang saleh dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan meneladani mereka.
Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy’ariah, Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak berkembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
  1. Dia juga harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekadar menuruti hawa nafsu karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.
  2. Biasakan dia untuk menulis indah (khath) dan menghafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menujukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.
  3. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagiakannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebarkan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.
  4. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakana kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkanya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak berpengaruh lagi dengan kemarahan.
  5. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau berbicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.
  6. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.
  7. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.
  8. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena ada keyakinan bahwa itu tidak baik.
  9. Biasakan agar anak melakukan olahraga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki keterampilan memanah (menembak), menunggang kuda, berenang, maka tidak apa menyibukkan diri dengan kegiatan itu.
  10. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membanggakan diri.
  11. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orangtuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia bersikap tawadhuk, lemah lembut dan menghormati temannya.
  12. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular dan kalajengking.
  13. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.
  14. Jauhkan ia dari kebiasaan meludah di tengah majelis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.
  15. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam.
  16. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau zikir kepada Allah.
  17. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.
  18. Dia juga harus dicegah dari perbuatan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.
  19. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.
  20. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan, atau melakukan kegiatan lain.
  21. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk salat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudu) sebelumnya. Cegahlah dia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.
  22. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orangtua, guru, pengajar (ustad) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dan bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).
Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan. Wallahu a’lam. Dari mathwiyat Darul Qasim “tsalasun wasilah li ta’dib al abna” asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Diterjemahkan oleh Ubaidillah Masyhadi.
Sumber : Cara Pintar Mendidik Anak

Kamis, 07 Juni 2012

Tips-Tips Liburan Islami


Liburan merupakan salah satu cara untuk meredakan diri dari kesibukan, seperti men-charge kembali baterai kosong untuk menimbulkan rangsangan semangat baru setelah keluar dari aktivitas normal.  Jika kita bisa memanfaatkan liburan dengan baik, maka hidup kita akan menjadi lebih berarti.  Liburan yang baik dapat mencerahkan pikiran, membentuk pola pikir lebih positif, meningkatkan kreatifitas dan produktivitas, serta mampu menurunkan kasus depresi klinis.  Sehingga liburan sangat baik untuk kesehatan jiwa dan fisik kita.

Liburan yang terlalu lama dan hanya diisi dengan sekedar membuang waktu, akan menimbulkan sifat malas, tidak kreatif, tidak produktif dan konsumtif.
Di negeri ini terlalu banyak hari libur.  Padahal kaum muslimin masih harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan.  Kita perlu banyak waktu untuk mengejar.  Oleh karena itu, kita harus membuat program liburan Islami yang produktif dan bermutu.

Tips Liburan Islami

Rumus umum dalam perbuatan seorang muslim adalah terikat syariat.  Salah satu tanda keimanan seseorang adalah tidak melakukan hal yang sia-sia.  Oleh karena itu perlu untuk membuat jadwal agenda liburan. Jadi liburan bukanlah sekedar membuang waktu, tetapi diisi dengan amal sholeh baik yang wajib, sunnah atau mubah.  Bukan dengan perbuatan yang makruh apalagi haram.

Menciptakan Baiti Jannati Sesuai Budget

Liburan tidak harus identik dengan bepergian keluar rumah/kota yang harus mengeluarkan banyak biaya.  Liburan juga bisa dinikmati di rumah.  Banyak kegiatan yang dapat dilakukan di rumah.
Bersih-bersih rumah
bisa mempercantik tampilan rumah dan menjaga kesehatan penghuninya. Seluruh anggota keluarga bisa melakukan kerja bakti untuk membersihkan rumah.
Menciptakan restoran di rumah
Dengan membuat ruang makan/dapur lebih nyaman, membuat daftar menu sebulan, belajar menjadi chef hebat, belajar memasak dan membuat kue.
Menciptakan hotel di rumah
Dengan menata barang-barang di ruang tidur/ruang keluarga/ruang tamu/kamar mandi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih nyaman dan menarik.
Bongkar lemari
Kita bisa menyortir isi lemari untuk memilih mana yang perlu disimpan, dan mana yang bisa disumbangkan kepada mereka yang memerlukan
Perpustakaan Rumah
Bagi yang hobi membaca, bisa baca buku yang belum sempat dibaca.  Lengkapi koleksi buku dan bacaan kita dengan berburu bacaan bermanfaat di toko buku, bazaar, seminar, atau pinjam untuk menambah keimanan dan wawasan.
Browsing Situs Islami
Bagi yang hobi berselancar di dunia maya, punya kesempatan untuk membaca situs-situs Islami online yang mempublish beragam berita ke Islaman dan pengetahuan.  Bahkan dapat diunduh secara gratis.  Seperti www.innomuslim.com, www.suara-islam.com, www.hidayatullah.com, www.harunyahya.com, www.voa-islam.com, dll, Sehinga kita dapat menambah ilmu.  Kita juga bisa mempercantik blog pribadi.
Nonton bareng film Islami dan edukatif
Film yang sudah dibeli tapi belum sempat ditonton.
Mengevaluasi kesempurnaan pelaksanaan kewajiban agama
Orangtua dapat mengechek pelaksanaan sholat anak: bacaan. gerakan, arti, pemahaman, hikmahnya.  Chek bacaan Qur’an anak apakah sudah sesuai dengan tajwid.
Mengajarkan keterampilan
Belilah buku tentang suatu ketrampilan, lalu praktekkan bersama dan hasilnya bisa menambah aksesori koleksi pribadi atau untuk memberikan hadiah kepada temannya.

Latihan menulis
Bagi yang hobi jurnalistik bisa membuat beberapa tulisan untuk koleksi pribadi atau dikirim ke media masa.
Menyambung kembali silaturrahmi
dengan keluarga atau teman yang telah lama tidak bertemu karna tidak sempat Silaturrahmi kepada kerabat dekat, yang sulit untuk mengunjungi ketika masa sibuk.  Mempererat hubungan dengan kakek, nenek, paman dan bibi.

Tafakur alam
Buat yang hobi adventure dapat melakukan piknik ke gunung, pantai, pedesaan untuk melihat kekuasaan Allah dan menambah keimanan.
Pesantren Liburan
untuk  memperluas wawasan keislaman, mempertebal iman, serta sarana rekreasi yang Islami. Bentuk kegiatan berupa ceramah dengan sifat tutorial, simulasi dan permainan,
Lengkapi keperluan ibadah. 
Bagi yang hobi shopping, cari barang yang penting dan bermanfaat untuk keperluan ibadah: buku doa, terjemah al qur’an lafzhiyah, qur’an kecil untuk dapat dibawa kemana-mana, tasbih, sajadah untuk pergi, mukenah, qur’an digital, software islami.
I’tikaf di masjid,
yaitu kegiatan tinggal di dalam mesjid (tidak pulang ke rumah) untuk melakukan berbagai ibadah di tempat tersebut: tadarus, sholat sunnah, berdoa, muhasabah (menghitung dosa dan pahala), istighfar, berzikir, qiyamul lail, dll
Belajar Bahasa Arab. 
“Pelajarilah Bahasa Arab, karena itu adalah bagian penting dari agama kalian” (‘Umar Bin Khattab)
Ziarah ke makam wali Allah
untuk mengenang perjuangan mereka dan mengingatkan tentang kematian.
Umrah bagi yang mampu.
Sekeluarga bisa melakukan praktek ibadah langsung di tanah suci.
Mengundang teman-teman si anak untuk pengajian di rumah,
sehingga kita bisa menambah teman-teman yang baik untuk anak.
Mengikuti kegiatan ke-Islaman
yang dilakukan oleh berbagai lembaga ke-Islaman, seperti pameran buku, seminar, bedah buku, dll.  Kita menjalin komunikasi dengan komunitas muslim untuk menumbuhkan rasa persatuan sesama muslim.
Asah Simpati. 
Berkunjung ke panti asuhan, panti jompo, tempat pengungsian korban bencana sambil membawa hadiah dan sedekah bagi mereka.  Sehingga anak akan selalu ingat untuk selalu bersyukur dan sabar.
Puncak liburan berdasarkan hadits nabi adalah jihad.
Rasul berkata: “Pikniknya umatku adalah jihad”. Seperti kebiasaan yang berlaku dalam program pesantren di Afghanistan. Ketika tiba masa liburan, diadakan latihan jihad dengan praktek langsung di beberapa daerah perang di Afghanistan, yang beresiko mati syahid.
Selamat berlibur Islami. (Ummu Hafizh)
Sumber : http://www.suara-islam.com

Minggu, 15 April 2012

4 Cara Membangunkan Anak Tanpa Marah - Marah


KOMPAS.com - Punya anak merupakan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Apalagi, jika anak Anda sudah sekolah. Tantangan bertambah satu: Membangunkan mereka di pagi hari untuk berangkat ke sekolah. Kalau setiap hari Anda harus marah-marah kepada mereka, tentunya akan menguras emosi, ya. "Bila setiap pagi harus dimulai dengan emosi tinggi, bisa jadi Anda akan kehilangan energi untuk menjalani sisa hari," kata Helene Emsellem, penulis buku Snooze… or Lose! 10 "No-War" Ways to Improve Your Teen's Sleep Habits.

Sebelum Anda bertindak lebih jauh, Emsellem, yang juga direktur medis Center for Sleep & Wake Disorders di Chevy Chase, mengajak Anda terlebih dulu memahami mengapa anak-anak sulit bangun pagi. Menurutnya, anak-anak, terutama remaja, butuh tidur sekitar 9 jam sehari dan secara biologis baru akan tertidur pada sekitar pukul 23.00. Namun, Anda sendiri tahu bahwa jam sekolah dimulai jauh sebelum waktu istirahat mereka selesai. Itu sebabnya, sulit untuk meminta mereka segera membuka mata, kemudian mandi dan bersiap ke sekolah.

"Sulit bangun pagi pada anak remaja itu bukanlah masalah kebiasaan, melainkan masalah biologis," kata Emsellem memberi kesimpulan. Lantas, apa "obat" supaya Anda tidak perlu berteriak-teriak setiap pagi? Pertama-tama, Emsellem menganjurkan Anda untuk bicara dengan anak. Katakan bahwa Anda ingin dia belajar bangun pagi sendiri tanpa harus disertai omelan dari orangtua. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar hal ini terlaksana:

1. Berikan tanggung jawab. "Mintalah anak lebih bertanggung jawab terhadap pola tidur mereka. Artinya, mereka harus belajar untuk bangun tanpa bantuan orang lain," kata Emsellem. Selain itu, buatlah batasannya. Misalnya, Anda akan membangunkannya satu kali saja. "Jika Anda masuk ke kamarnya empat kali di setiap pagi, mereka tidak akan merasa punya tanggung jawab untuk bangun pagi karena merasa Anda akan terus melakukannya," kata Emsellem.

2. Ajarkan mereka bagaimana caranya. Minta mereka untuk mencatat setiap hari, pukul berapa mereka tidur dan kapan mereka bangun. Lakukan ini selama beberapa minggu. Perhatikan sejauh mana perubahan pada pola tidur dapat membantu mereka bangun lebih pagi. Misalnya, Anda dapat memintanya menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum pukul 19.00, dan tidur lebih awal daripada biasanya.

3. Waspadai akhir minggu. Kebanyakan anak dan remaja ingin menunda waktu tidurnya di akhir minggu, karena merasa esok harinya mereka bisa bangun lebih siang. Menurut William Kohler, direktur medis dari Florida Sleep Institute, Spring Hill, Florida, boleh-boleh saja sebenarnya jika mereka mau tidur lebih lama di akhir minggu. "Namun, beri kelonggaran waktu bangun hanya sekitar 1-2 jam lebih siang daripada hari sekolah. Yang pasti, jangan biarkan mereka bangun setelah pukul 10.00," kata Kohler. Hal ini dapat mencegah gangguan pada pola tidur mereka.

4. Jauhkan komputer dan TV dari kamar mereka. Selain itu, jangan biarkan mereka berinteraksi dengan dua alat elektronik ini beberapa saat sebelum tidur, sebab ini justru dapat membuat mereka jadi sulit tidur. Sementara itu, pastikan kamar tidur anak memiliki jendela yang menghadap keluar, sehingga sinar matahari di luar dapat membantu mereka bangun setiap pagi.

Selasa, 28 Februari 2012

Menghadapi Kenakalan Anak Dalam Rumahtangga


sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam guna menyempurnakan keutamaan Akhlak. Termasuk dalam urusan penyempurnaan akhlak adalah memberi perlakuan yang baik kepada anak, seperti mendidik, berlaku sabar dalam menghadapi kenakalannya maupun sabar dalam memberi bimbingan sejak masih dalam kandungan sampai mereka dewasa. Selama ini sebagian orang tua bersikap reaksioner atas semua tindakan anak, mereka memandang anak sebagai orang dewasa dalam bentuk mini dan semua semua yang dilakukan harus sesuai dengan kelakuan orang tua. Maka jika anak nakal yang dilakukan oleh orang tua biasanya adalah mengurung, mengajar, mengisolasi dari pergaulan, mengurangi uang saku dan sebagainya. Mengapa orang tua tidak bertanya kepada diri sendiri ada apa dengan anak saya, apa yang kurang dari diri saya. Tidak mengherankan jika sekarang orang tua banyak yang mengeluh karena anaknya terlibat dan akrab dengan narkoba, diskotik, minum-minuman keras serta pergaulan bebas. Orang tua selama ini hanya mampu memberikan ruang dan memenuhi kebutuhan fisiknya sedangkan kebutuhan psikisnya terabaikan. Bagaimana tidak terabaikan jika mereka hanya dirawat dan dididik oleh pembantu yang kurang pendidikannya sekalipun ayah ibunya seorang doktor. Bukankah sayang jika permata hati kita nantinya hanya generasi yang penuh dengan daging tambun sedangkan hatinya keropos dari nilai-nilai dan ruh agama maupun ilahiyah. Padahal anak sesuai dengan fitrahnya merupakan amanat Allah yang harus dijaga, dipelihara, dan dirawat dengan kesabaran disertai dengan tawakkal untuk tetap berdo’a semoga diberi anak-anak yang shalih, bukan cuma cerdas dan berprestasi di sekolah semata akan tetapi mampu menjadi qurratu a’yun di masa depan. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 74:

“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan anak-anak yang jadi permata hati dan jadikanlah kami pemimpin yang bertaqwa”.


Tidak mengherankan jika Allah selalu berpesan bahwa anak-anak adalah perhiasan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah sebaik-baik contoh dalam memperlakukan anak. Bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak cucu-cucunya bermain, mengajarkan cinta kepada anak-anak kepada para sahabatnya.


Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia berkata: “Pernah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menciumi Hasan putra Ali dimana pada saat itu ada Aqra’ Ibnu Habis Attamimy duduk. Dia lalu berkata, “Saya mempunyai sepuluh orang anak tidak pernah satupun dari mereka saya cium”. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melihat kepadanya dan berkata: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ.
“Siapa yang tidak merahmati tidak dirahmati (oleh Allah)” (HR. Al-Bukhari dan muslim).

Mencium anak-anak merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua kepada anak sekaligus merupakan contoh riil agar anak tidak mencium kepada orang lain yang bukan mahramnya. Pengalaman orang tua sering mencium anaknya sampai mereka dewasa tidak akan menjadikan anak-anak mencium orang lain apalagi sampai berbuat zina karena mereka sendiri telah merasa kecukupan dengan kasih sayang dari orang tua insya Allah mereka akan menjadikan anak-anak yang diharapkan.

Apa yang sudah dicontohkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menegaskan bahwa:
1.      Wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya.
2.      Kewajiban tersebut wajar karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anak-anaknya. Jadi yang pertama hukumnya wajib, kedua karena orang tua senang mendidik anak-anaknya. Inilah modal utama bagi pendidikan dalam keluarga itu dilaksanakan dan apa tujuannya, serta kapan mulainya.
Cinta kepada anak seringkali menyebabkan orang tua membanggakan anaknya. Mereka sering dengan semangat meluap-luap menceritakan anaknya kepada tamunya atau kawan-kawannya. Terutama mengenai kecerdasannya, kelucuannya, kepintarannya, keberaniannya dan kegemasannya. Kadang-kadang cerita ini menjemukan orang yang mendengarkannya. Sebaliknya tak ada orang yang ingin menceritakan kepada tamunya bahwa anaknya bodoh, nakal, penakut dan sebagainya.
Anak sering pula menyebabkan orang tua lupa kepada Allah dan RasulNya. Saking sibuknya mengurus anak-anaknya, mereka bekerja mati-matian mencari uang agar semua permintaan anaknya dapat terpenuhi. Kadang-kadang permintaan yang tidak masuk akalpun dipenuhi, demi cintanya kepada anak. Sayang anak tidak jarang menyebabkan orang tua korupsi dan mencuri.
Kadang-kadang karena merasa anak-anaknya kuat, cerdas, juara kelas, pemberani, maka orang tua merasa hidupnya akan aman. Oleh karena itu mereka mulai meninggalkan Tuhan. Seringkali orang tua membela anaknya yang berbuat salah sampai orang tua lupa bahwa membela yang salah adalah pelanggaran aturan Allah.

Orang tua dapat juga menjadi budak anaknya, dikala ia merasa wajib memenuhi segala keinginan anaknya. Kewibawaan orang tua telah hilang, karena ia kalah dan dibentuk oleh anaknya karena terlambat atau tidak mampu memenuhi permintaan anaknya. Seperti tidak berani membangunkan anaknya untuk shalat Subuh karena takut anaknya kaget atau marah.Ayat Al-Qur’an berikut dapat menjadi renungan untuk kita seperti yang tertera dalam Surat Saba’ ayat 37:

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan diri kalian kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih.”


Berdasarkan ayat tadi bagi orang tua mendidik anak adalah kewajaran, karena kodratnya; selain itu karena cinta. Mengingat uraian di atas, maka secara sederhana tujuan pendidikan anak di dalam keluarga ialah agar anak itu menjadi anak yang shalih. Anak seperti itulah yang patut dibanggakan. Tujuan lain adalah sebaliknya, yaitu agar anak itu kelak tidak menjadi musuh bagi orang tuanya. Anak yang saleh dapat mengangkat nama baik orang tuanya, karena anak adalah dekorasi keluarga dan mendo’akan orang tuanya kelak. Bila tidak mendo’akan orang tua, keshalihannya telah cukup merupakan bukti amal baik bagi orang tuanya.
Pada suatu waktu orang tua amat susah karena anaknya nakal. Orang tua yang menduduki posisi terhormat dimasyarakat akan jatuh wibawanya karena anaknya yang nakal. Seorang pemimpin masyarakat bila anaknya terlibat kenakalan khas remaja masa kini, misalnya terlibat masalah jual beli obat-obatan terlarang akan jatuh martabatnya dimata masyarakat. Bahkan mungkin saja orang tua akan dipecat dari jabatannya hanya karena kenakalan anaknya.
Kapankah sebaiknya kita mulai mendidik anak? Jawabannya tidak lain adalah semenjak masih dalam masa konsepsi. Bahkan dalam Islam dimulai semenjak memilih pasangan hidup, kemudian saat hamil, saat lahir, saat anak-anak sampai dewasa. Mengenalkan mereka dengan asma-asma Allah, tentang tauhid, tentang akhlaq dan sebagainya.
Lalu bagaimana jika cara tersebut sudah dilaksanakan dan anak-anak tetap saja nakal? Sabar, tawakkal dalam menghadapinya adalah obat terbaik sambil tetap berdo’a memohon kepada Allah agar kenakalannya tidak membawa madlarat bagi dirinya sendiri, orang tuanya dan masyarakatnya.

Oleh: Nafisah Amron